najahumroh.com – Pertanyaan tentang “boleh nggak menggabungkan niat puasa Senin–Kamis dengan qadha Ramadan?” memang hampir selalu muncul setiap tahun. Biasanya datang dari orang yang ingin segera melunasi utang puasanya, tapi tetap ingin menjaga rutinitas puasa sunnah yang sudah berjalan.
Topik ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena bukan hanya bicara teori fikih, tetapi bagaimana kita mengatur ritme ibadah agar tetap selaras dengan kewajiban.
Sebelum Masuk Hukum: Apa Itu Menggabungkan Niat?
Istilah menggabungkan niat bisa bermakna dua hal yang berbeda:
1. Menjalankan qadha di hari Senin atau Kamis
Jadi, yang diniatkan hanya qadha, namun dilakukan pada hari Senin/Kamis demi mengejar keutamaan harinya.
2. Memasang dua niat dalam satu puasa
Misalnya: niat qadha dan niat puasa sunnah Senin–Kamis sekaligus.
Perbedaan ini penting supaya pembahasannya tidak bercampur aduk. Karena yang jadi pertanyaan biasanya bukan “sah atau tidak sah”, tetapi “dapat dua pahala atau tidak”.
Niat: Penentu Status Puasa
Dalam ibadah puasa, niat itu penentu status. Bukan sekadar lafaz, tetapi apa yang kita mantapkan dalam hati.
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Walaupun aktivitas puasanya sama (menahan makan & minum), status hukumnya bisa berbeda tergantung niat:
-
Jika niatnya qadha, maka ia puasa wajib.
-
Jika niatnya Senin–Kamis, maka ia puasa sunnah.
Karena itu, niat harus jelas sejak awal.
Qadha Ramadan: Prioritas & Wajib Diniatkan Sejak Malam
Qadha Ramadan adalah kewajiban, dan kewajiban harus diniatkan sejak malam sebelum fajar.
Ada hadis yang selalu dijadikan rujukan:
“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa wajib tidak fleksibel seperti puasa sunnah. Maka, jika targetnya adalah qadha, pastikan niatnya tegas sejak malam hari.
Puasa Senin–Kamis: Sunnah yang Penuh Keutamaan
Puasa Senin–Kamis bukan sunnah biasa. Rasulullah SAW menjelaskan alasannya:
“Amal-amal itu diangkat pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka ketika amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”
Karena itu, banyak orang ingin menjaga puasa Senin–Kamis secara konsisten.
Cara Paling Aman: Niatkan Qadha, Lakukan di Hari Senin atau Kamis
Ini cara paling aman dan paling banyak dipilih ulama:
✔ Niatkan qadha (wajib)
Dilakukan sejak malam hari.
✔ Kerjakan pada hari Senin–Kamis
Supaya tetap mendapatkan momentum hari yang mulia.
Dengan cara ini:
-
Puasanya sah sebagai qadha
-
Keutamaan hari Senin/Kamis tetap bisa diharapkan
-
Tidak menabrak aturan fikih
-
Tidak menimbulkan keraguan
Singkatnya: satu niat, satu ibadah, dilakukan di hari yang penuh keutamaan.
Apakah Keutamaan Senin–Kamis Tetap Didapat Jika Hanya Berniat Qadha?
Banyak orang khawatir:
“Kalau nggak niat Senin–Kamis, apakah pahala harinya hilang?”
Dalam penjelasan ulama, keutamaan hari berkaitan dengan amal yang terjadi pada hari itu, bukan sekadar label niat.
Kalau kamu puasa qadha pada hari Senin, faktanya kamu berpuasa pada hari Senin, sehingga tetap mungkin mendapatkan keutamaannya.
Terlebih bila dalam hati ada motivasi:
“Aku pilih hari ini karena mengikuti sunnah Nabi.”
Bagaimana Jika Seseorang Berniat Dua Sekaligus (Qadha + Senin–Kamis)?
Dari sisi keabsahan qadha, puasanya tetap sah selama niat qadha terpasang sejak malam.
Yang menjadi perbedaan pendapat ulama adalah:
-
Apakah pahala sunnah Senin–Kamis terhitung sebagai ibadah yang berdiri sendiri
-
Atau hanya dapat keutamaan harinya saja
Pendapat paling aman adalah:
Niat utama qadha. Sunnahnya cukup sebagai bonus keutamaan hari.
Bedakan “Puasa Sunnah” dan “Keutamaan Hari Sunnah”
Ini poin yang sering membingungkan jamaah.
-
Puasa sunnah Senin–Kamis → ibadah tersendiri yang diniatkan sunnah
-
Keutamaan hari Senin–Kamis → bonus karena berpuasa di hari itu
Maka:
-
Jika kamu qadha di hari Senin, puasamu tetap qadha
-
Keutamaan hari tetap mungkin diraih
Namun tidak otomatis dicatat sebagai puasa sunnah secara mandiri.
Contoh Niat Qadha yang Simpel dan Mantap
Niat cukup dalam hati. Jika ingin lafaz untuk memantapkan, boleh membaca:
“Saya niat puasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadan yang wajib karena Allah Ta’ala.”
Kalau ingin berharap bonus Senin–Kamis, cukup niat di hati:
“Aku pilih hari ini karena mengikuti sunnah Nabi, ya Allah beri pahala yang Engkau kehendaki.”
Kesalahan Umum: Puasa Sunnah Diniatkan, Tapi Diharapkan Menjadi Qadha
Ini kesalahan yang sering terjadi.
Puasa sunnah tidak otomatis berubah menjadi qadha.
Qadha wajib dengan niat qadha.
Maka, jika masih punya utang puasa, jangan berharap puasa sunnah “sekalian menggugurkan” qadha. Itu bisa membuat qadha tidak terbayar.
Bolehkah Puasa Sunnah Jika Utang Qadha Masih Ada?
Secara hukum, boleh selama qadha masih dalam batas waktu yang diperbolehkan (sebelum Ramadan berikutnya) dan tidak ada unsur meremehkan.
Namun adab terbaik adalah mendahulukan yang wajib.
Strategi paling realistis:
Jadikan Senin–Kamis sebagai hari qadha sampai lunas.
Setelah selesai, Senin–Kamis kembali menjadi sunnah murni.
Strategi Cepat Melunasi Qadha Tanpa Meninggalkan Senin–Kamis
Misalnya utangmu 8 hari.
Cukup qadha setiap Senin & Kamis:
-
1 minggu: 2 hari
-
4 minggu: 8 hari
Dalam sebulan, qadha selesai, rutinitas sunnah tetap terjaga.
Niat Puasa Wajib dan Sunnah: Jangan Disamakan
-
Puasa sunnah: bisa diniatkan di pagi hari selama belum makan/minum
-
Puasa wajib: harus diniatkan sebelum fajar
Jadi, jika ingin qadha, pastikan niat sudah terpasang sejak malam.
Kesimpulan: Mana Pilihan yang Paling Selamat?
Ringkas dan mudahnya:
✔ Niatkan qadha sejak malam
✔ Lakukan pada hari Senin atau Kamis
✔ Keutamaan harinya insyaAllah tetap dapat
✔ Tidak perlu memaksakan “dua ibadah dalam satu niat”
Cara ini yang paling aman dari perbedaan pendapat, paling damai di hati, dan paling sesuai adab kepada Allah.
Pesan untuk Jamaah Najah Amanah Tour
Qadha bukan beban, tetapi kesempatan menjaga kedekatan dengan Allah setelah Ramadan.
Dan memilih Senin–Kamis sebagai waktu qadha adalah cara indah untuk:
-
Menunaikan kewajiban
-
Meraih keutamaan sunnah
-
Menjaga ritme ibadah
-
Menyucikan hati sedikit demi sedikit
Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam menjaga puasa wajib maupun sunnah, dan menerima semua amal kita. Aamiin.




