Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan keberkahan. Namun, dalam praktiknya tidak semua dari kita mampu menjalankan puasa secara sempurna. Ada yang terpaksa meninggalkan puasa karena sakit, haid, hamil, menyusui, perjalanan jauh, atau bahkan karena kelalaian.
Sobat Najah, kabar baiknya: Islam adalah agama yang penuh rahmat. Puasa yang bolong bukan akhir segalanya, selama kita tahu bagaimana cara menebusnya sesuai tuntunan fikih.
Puasa Bolong: Apakah Berdosa?
Puasa yang ditinggalkan tidak otomatis berdosa, selama ada udzur syar’i. Allah SWT berfirman:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka wajib mengganti pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Artinya, Allah sudah menyiapkan jalan keluar bagi hamba-Nya.
Cara Menebus Puasa Bolong Sesuai Fikih
1. Qadha Puasa (Mengganti di Hari Lain)
Ini adalah cara paling umum.
Wajib qadha bagi:
-
Orang sakit sementara
-
Musafir
-
Wanita haid atau nifas
-
Orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan (disertai taubat)
👉 Waktu qadha:
Boleh dilakukan kapan saja di luar Ramadan, dan dianjurkan sebelum Ramadan berikutnya.
2. Fidyah (Memberi Makan Orang Miskin)
Fidyah berlaku bagi mereka yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti:
-
Lansia renta
-
Orang sakit menahun
-
Sebagian ulama juga membolehkan untuk ibu hamil/menyusui (tergantung mazhab)
👉 Bentuk fidyah:
-
Memberi makan 1 orang miskin untuk setiap 1 hari puasa yang ditinggalkan
-
Setara ± 1 mud makanan pokok atau satu porsi makan layak
3. Qadha + Fidyah (Pendapat Sebagian Ulama)
Dalam kondisi tertentu, seperti:
-
Ibu hamil atau menyusui yang khawatir pada bayi
-
Puasa ditunda hingga masuk Ramadan berikutnya tanpa uzur
Maka sebagian ulama menganjurkan menggabungkan qadha dan fidyah.
Bagaimana Jika Puasa Bolong Karena Lalai?
Jika puasa ditinggalkan tanpa uzur syar’i, maka:
-
Wajib qadha
-
Disertai taubat sungguh-sungguh
-
Memperbanyak amal saleh sebagai penebus kelalaian
Islam membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali.
Jangan Menunda, Jangan Putus Asa
Sobat Najah, menebus puasa bukan sekadar mengganti kewajiban, tapi juga bentuk kejujuran kita kepada Allah. Jangan biarkan puasa bolong menjadi beban di hati, karena syariat hadir untuk memudahkan, bukan memberatkan.
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Penutup dari Najah Amanah Tour
Puasa yang bolong bukan tanda kegagalan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Dengan niat yang tulus dan langkah yang benar sesuai fikih, insyaAllah setiap kekurangan akan Allah sempurnakan dengan rahmat-Nya.
Semoga Ramadan ini bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga tentang belajar jujur, bertanggung jawab, dan kembali kepada Allah dengan hati yang lebih tenang. Aamiin 🤲




