Karena menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah, tawaf perlu dilakukan dengan memperhatikan syarat dan ketentuannya. Jangan sampai karena kurang memahami aturan, ibadah tawaf menjadi tidak sah atau harus diulang.
Berikut beberapa perkara yang perlu dipahami jamaah agar dapat melaksanakan tawaf dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan.
Apa Saja yang Dapat Membatalkan Tawaf?
Dalam artikel sumber, dijelaskan bahwa para ulama memberikan sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tawaf. Di antaranya berkaitan dengan kesucian, aurat, jumlah putaran, posisi Ka’bah, dan area pelaksanaan tawaf.
1. Berhadats Saat Tawaf
Kesucian menjadi salah satu hal penting dalam tawaf.
Menurut pendapat jumhur ulama yang menjadi dasar artikel sumber, seseorang yang berhadats di tengah pelaksanaan tawaf maka tawafnya batal dan perlu mengulanginya setelah kembali bersuci.
Karena itu, jamaah sebaiknya memastikan kondisi wudhu sebelum memulai tawaf dan memperhatikan kondisi tubuh selama menjalankan setiap putaran.
Catatan: Dalam persoalan fiqih tertentu terdapat perbedaan pendapat ulama. Jamaah sebaiknya mengikuti bimbingan ustadz atau pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan.
2. Aurat Terbuka dengan Sengaja
Menutup aurat merupakan bagian yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan tawaf.
Apabila aurat terbuka dengan sengaja, hal tersebut dapat memengaruhi keabsahan tawaf berdasarkan ketentuan yang dijelaskan dalam sumber.
Jamaah sebaiknya memastikan pakaian tetap tertutup dan rapi selama tujuh putaran, terlebih ketika berada di tengah kerumunan jamaah.
3. Tidak Menyempurnakan Tujuh Putaran
Tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran.
Setiap putaran perlu diperhatikan dengan baik agar jamaah tidak kehilangan hitungan. Jika seseorang tidak menyempurnakan tujuh putaran, maka tawafnya tidak sah sebagaimana penjelasan dalam artikel sumber.
Tips untuk jamaah:
Tidak perlu terburu-buru. Fokus pada ibadah dan hitung putaran dengan tenang. Jika bersama rombongan, ikuti arahan pembimbing agar tidak mudah kehilangan hitungan.
4. Posisi Ka’bah Tidak Berada di Sebelah Kiri
Saat melaksanakan tawaf, Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.
Karena itu, jamaah perlu memperhatikan arah perjalanannya dan tidak sengaja mengambil posisi yang membuat arah tawaf berbalik atau menyimpang dari ketentuan.
Memahami posisi ini sejak manasik akan sangat membantu jamaah ketika sudah berada di Masjidil Haram.
5. Melakukan Tawaf di Luar Area yang Disyariatkan
Tawaf bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah. Area pelaksanaannya juga perlu diperhatikan.
Artikel sumber menjelaskan bahwa melakukan tawaf di luar batas area tawaf yang disyariatkan dapat menyebabkan tawaf tidak sah.
Karena kondisi Masjidil Haram dapat sangat ramai, jamaah sebaiknya mengikuti arahan pembimbing mengenai jalur dan posisi tawaf.
Jangan Hanya Memperhatikan Sah, Tapi Juga Jaga Adab Tawaf
Selain perkara yang dapat membatalkan tawaf, ada pula hal-hal yang sebaiknya dihindari karena dapat mengurangi kekhusyukan dan kesempurnaan ibadah.
Hindari Berdesakan Berlebihan
Keinginan untuk mendekati Ka’bah atau mencium Hajar Aswad memang sangat besar. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita mendorong, menyakiti, atau mengganggu jamaah lainnya.
Keselamatan dan kenyamanan sesama jamaah juga perlu diperhatikan.
Kurangi Aktivitas yang Tidak Diperlukan
Tawaf merupakan waktu untuk berdzikir dan berdoa. Karena itu, sebaiknya jamaah tidak terlalu sibuk dengan aktivitas yang mengalihkan perhatian dari ibadah, seperti berbicara tanpa kebutuhan atau mengambil foto secara berlebihan.
Perbanyak Dzikir dan Doa
Tawaf merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daripada sibuk dengan percakapan yang tidak diperlukan, manfaatkan setiap putaran untuk berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan menghadirkan hati dalam ibadah. Artikel sumber juga mengutip anjuran Ibnu Qudamah agar orang yang bertawaf menyibukkan diri dengan dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Persiapan Sebelum Tawaf Sangat Penting
Kesalahan saat tawaf terkadang terjadi bukan karena jamaah sengaja melanggar ketentuan, tetapi karena belum memahami tata cara dan kondisi yang mungkin terjadi di lapangan.
Karena itu, manasik sebelum keberangkatan menjadi bagian penting dari persiapan umrah.
Jamaah sebaiknya memahami:
- Cara memulai tawaf
- Cara menghitung tujuh putaran
- Posisi Ka’bah ketika tawaf
- Pentingnya menjaga wudhu
- Ketentuan menutup aurat
- Adab ketika berada di tengah kerumunan
- Hal-hal yang perlu dilakukan apabila terjadi keraguan dalam hitungan
Dengan bekal pengetahuan tersebut, jamaah akan lebih siap menghadapi kondisi nyata di Masjidil Haram.
Tawaf Bukan Sekadar Berjalan Mengelilingi Ka’bah
Setiap langkah dalam tawaf merupakan bagian dari ibadah.
Karena itu, jangan hanya mengejar selesai tujuh putaran. Hadirkan hati, jaga kesucian, perhatikan ketentuannya, dan hormati jamaah lain yang juga sedang beribadah.
Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk menjadi tamu-Nya, melaksanakan tawaf dengan benar, khusyuk, dan penuh keberkahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersama Najah Amanah Tour
Persiapan ibadah yang baik dimulai jauh sebelum kaki menginjak Tanah Suci. Najah Amanah Tour hadir untuk membantu jamaah mempersiapkan perjalanan umrah, mulai dari persiapan hingga pendampingan selama perjalanan ibadah.
Najah Amanah Tour — #SolusinyaUmrahSukses 🕋




