Melangkah ke Tanah Suci adalah anugerah besar. Tidak semua orang Allah panggil menjadi tamu-Nya. Karena itu, selain kesiapan fisik dan manasik, ada satu bekal penting yang sering luput disadari jamaah: sikap tawadhu (rendah hati) selama beribadah umrah.
Tawadhu bukan sekadar sikap sopan, tapi cerminan kesadaran bahwa kita datang sebagai hamba, bukan tamu kehormatan. Di hadapan Ka’bah, semua manusia sama—tanpa gelar, tanpa status, tanpa keistimewaan dunia.
1. Luruskan Niat: Datang sebagai Hamba, Bukan Wisatawan
Umrah bukan perjalanan biasa. Saat kaki menjejak Masjidil Haram, niatkan dalam hati bahwa kita hadir untuk beribadah, bukan sekadar mengabadikan momen atau mengejar pengalaman visual.
Mengurangi fokus pada dokumentasi pribadi, terutama di area ibadah inti, adalah salah satu bentuk tawadhu. Biarkan hati lebih sibuk berzikir daripada mencari sudut foto terbaik.
2. Jaga Sikap Saat Thawaf dan Sa’i
Di tengah lautan manusia, tawadhu tercermin dari cara kita berjalan dan bersikap:
-
Tidak memaksakan diri hingga menyakiti orang lain
-
Tidak merasa lebih berhak karena sudah “sering umrah”
-
Memberi jalan kepada lansia, difabel, dan jamaah yang lebih lemah
Ingat, Allah menilai hati, bukan seberapa dekat kita dengan Ka’bah secara fisik.
3. Menahan Diri dari Sikap Pamer Ibadah
Ibadah yang indah bukan untuk dipertontonkan. Tawadhu mengajarkan kita untuk menyembunyikan amal, bukan memamerkannya.
Jika ingin berbagi pengalaman umrah, pastikan niatnya untuk edukasi dan inspirasi, bukan menunjukkan kelebihan diri. Kadang, diam dan khusyuk jauh lebih bernilai di sisi Allah.
4. Hormati Aturan dan Petugas Masjid
Petugas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi hadir untuk menjaga ketertiban jutaan jamaah. Tawadhu tercermin saat kita:
-
Menerima arahan dengan lapang dada
-
Tidak membantah atau bersikap emosional
-
Menyadari bahwa aturan dibuat demi kemaslahatan bersama
Kepatuhan adalah bagian dari adab ibadah.
5. Rendahkan Hati Saat Doa Dikabulkan, dan Saat Belum Dikabulkan
Ada doa yang langsung terasa terkabul, ada pula yang belum. Tawadhu mengajarkan kita untuk tetap bersyukur dalam dua keadaan.
Bukan soal seberapa banyak doa dikabulkan di depan Ka’bah, tapi seberapa besar hati kita tunduk kepada kehendak Allah.
6. Sadari: Bisa Umrah Adalah Karunia, Bukan Prestasi
Sikap paling berbahaya dalam ibadah adalah merasa lebih baik dari orang lain. Umrah bukan tanda kesalehan mutlak, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Semakin sering kita ke Tanah Suci, seharusnya semakin lembut hati, semakin rendah ego, dan semakin luas empati.
Di Tanah Suci, yang Allah cari bukan siapa yang paling dekat dengan Ka’bah, tapi siapa yang paling dekat hatinya dengan-Nya.
Semoga setiap langkah umrah kita dihiasi dengan tawadhu, setiap ibadah diterima dengan penuh rahmat, dan setiap kepulangan membawa perubahan akhlak yang nyata.
Bersama Najah Amanah Tour, kami percaya bahwa umrah terbaik bukan hanya yang nyaman perjalanannya, tapi juga yang indah adab dan hatinya. 🤍🕋




